BOTANI JAGUNG

 A. Sistematika Jagung

1.  Klasifikasi

Secara umum,  klasifikasi dan sistematika tanaman jagung adalah sebagai berikut :

Kingdom           :  Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi                 :  Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Subdivisi           :  Angiospermae (berbiji tertutup)

Kelas                 :  Monocotyledoneae (berkeping satu)

Ordo                  :  Gramineae (rumput-rumputan)

Famili                :  Gramineceae

Genus                :  Zea

Spesies              :  Zea mays L.

2.   Penggolongan / Pengelompokan

Genus Zea hanya mempunyai satu spesies yaitu Zea mays, di mana spesies ini mempunyai banyak varietas yang membingungkan para botanis untuk mengklasifikasikannya. Jadi beberapa ribu varietas ini digolongkan dalam grup, yang dipisahkan karena perbedaan sifat-sifatnya seperti bentuk dan kandungan dari bijinya (endosperm). Golongan jagung berdasarkan ilmu pertanian didasarkan kepada sifat, distribusi, dan kepentingannya. Jenis-jenis jagung dapat digolongkan menurut sistem baru, sistem sturtevant’s, dan sistem Inggris (Tabel 2).

a.  Jagung tepung (Zea mays L.  amylacea ;  Flour corn / soft corn)

Jagung tepung banyak ditanam di daerah kering di Amerika Serikat dan beberapa negara Amerika Selatan ( sebagian Peru, Bolivia, dan Columbia), serta Afrika. Biji mengandung hampir seluruhnya zat pati / tepung yang lunak.

Tepung yang lunak ini sangat mudah dicerna sehingga banyak digunakan sebagai makanan bayi. Apabila kena panas, tepung ini mudah pecah. Jagung tepung termasuk jenis jagung tertua yang sering ditemukan di kuburan-kuburan orang Aztecs dan Inca jaman dulu. Panjang tongkol berkisar 25 -30 cm, dan jumlah baris biji pada janggel berkisar 8 – 12 baris.

b. Jagung gigi kuda (Zea mays L. Indentata ;  dent corn)

Biji jagung berbentuk gigi kuda (denti formis) telah berkembang di ladang jagung Amerika Serikat, Meksiko Utara, dan terjadi peningkatan usaha di Eropa. Jagung gigi kuda dicirikan dari bijinya yang mengalami depresi di bagian tengah atau atas biji. Zat tepung yang terletak di biji bagian sampingnya adalah keras, sedangkan zat tepung yang menuju ke biji bagian ujung adalah lunak. Cepat mengering dan pengeriputan biji dari zat pati yang lunak inilah merupakan ciri khas dari ujung gigi kuda.

Jagung gigi kuda biasanya membentuk 1-2 tongkol per tanaman dengan biji berukuran besar-besar. Biji jagung menempel pada janggelnya yang terbagi dalam beberapa baris. Bentuk bijinya seperti baji, bersudut, dan memanjang, dengan berat 1000 biji antara 300 – 500 gram. Umurnya agak dalam dibanding jagung mutiara, dan pertumbuhannya lebih tegap. Di AS jagung gigi kuda digunakan sebagian besar untuk pakan ternak seperti sapi, babi, dan ayam. Di Indonesia, jagung gigi kuda jarang ditanam karena kurang tahan terhadap hama bubuk, dan bila ditumbuk menjadi beras jagung maka rendemen berasnya rendah karena mudah hancur menjadi tepung.

c.  Jagung mutiara (Zea mays L. indurata ; Flint corn)

Biji mengandung zat tepung yang lunak di bagian dalam, dalam jumlah sedikit, sedangkan di bagian luarnya keras (horny starch). Jadi bijinya mempunyai kekuatan bertahan terhadap serangan hama dan gangguan-gangguan luar lainnya seperti keadaan hujan yang tidak teratur. Bijinya yang tidak berkerut pada saat mengering atau waktu masak menyebabkan daya tahan terhadap hama gudang akan lebih baik. Jagung jenis lokal Indonesia umumnya tipe jagung mutiara.

Umur jagung mutiara bervariasi dari genjah sampai berumur dalam. Begitu pula jumlah dan ukuran janggel bermacam-macam. Berat 1000 biji berkisar antara 100 – 300 gram. Jagung mutiara terbagi menjadi dua kelompok, yaitu :

1)  Kelompok  mikrosperma,  dengan  berat  biji   kurang   dari  250 gram,  dan jumlah barisan biji pada janggel antara 12 – 20 baris.

2)  Kelompok makrosperma, dengan berat 1000 bili lebih besar dari 250 gram, dan jumlah barisan biji pada janggelantara 8 – 16 baris.

Jagung mutiara paling banyak ditanam, sebab memiliki tingkat kemasakan yang lebih cepat dan kualitas konsumsi serta pengolahan yang baik. Apabila ditumbuk atau digiling akan diperoleh rendemen beras jagung yang lebih tinggi. Di Amerika Selatan dan Argentina, sebagian besar hasil produksinya untuk pakan ternak, khususnya ayam, terutama biji yang berwarna kuning.

d. Jagung berondong (Zea mays L. everta ; pop corn)

Jagung brondong mempunyai ciri biji yang lebih kecil dari jagung mutiara, dan mengandung zat pati yang penuh / cukup sehingga biji menjadi lebih keras dari jagung mutiara. Pada saat dipanaskan, uap air yang terdapat dalam biji akan mengembang dan menerobos ke luar dan meletuskan biji. Kadar air optimum untuk proses peletusan sekitar 14%. Biasanya jagung jenis ini berwarna purih atau kuning dengan bentuk yang agak meruncing dan tongkolnya berukuran kecil. Berat 1000 biji antara 80 – 130 gram. Jenis jagung ini terdiri dari dua tipe:

1)  Jagung yang berbiji pipih dan meruncing yang disebut tipe rice pop corn

2)  Jagung yang bijinya bulat dan kompak/mampat disebut tipe pearl pop corn

Di Indonesia, telah banyak orang yang mengkonsumsi jagung berondong dalam bentuk snack.

e. Jagung manis (Zea mays L. saccharata ; sweet corn)

Jagung manis mengandung lebih banyak gula daripada pati sehingga bila kering bijinya keriput. Di Meksiko, ada beberapa varietas jagung yang digunakan sebagai bahan pembuat sirup. Di samping itu terdapat gen resesif yang dapat mencegah perubahan dari gula menjadi pati. Jagung manis berkembang dari jagung gigi kuda dan jagung mutiara melalui pemuliaan tanaman. Ciri-ciri jagung manis : biji yang masih muda bercahaya dan berwarna jernih seperti kaca, sedangkan biji yang telah masak dan kering akan menjadi keriput.

Cara membedakan jagung manis dengan jagung biasa : jagung manis berambut putih sedangkan jagung biasa berambut merah. Umur panen jagung manis 60 – 70 hari, kecuali pada dataran tinggi dapat mencapai 80 hari. Jagung manis akan menjadi tidak manis jika terjadi persilangan dengan jagung biasa.

f. Jagung bungkus / polong (Zea mays L. tunicata ; pod corn)

Jagung bungkus merupakan jenis langka dan aneh karena memiliki daun pembungkus ganda. Masing-masing biji dibungkus oleh kelobot kecil dan seluruh kelobot dibungkus lagi oleh kelobot besar seperti halnya jagung biasa. Jadi bijinya tidak nampak. Jagung bungkus banyak di tanam di Amerika seperti Uruguay dan Paraguay karena jagung ini dianggap lebih dahulu ada.

g. Jagung lilin / ketan (Zea mays L. Ceratina Kulesch ; waxy corn)

Jagung lilin disebut waxy karena bijinya kelihatan seperti lilin. Biji jagung mengandung amilopektin lebih besar dari amilosa dalam endospermnya. Amilopektin merupakan gugus gula yang bercabang dan bila dicampur dengan iodium akan menghasilkan warna merah. Kandungan amilopektin yang tinggi menyebabkan rasa pulen pada jagung ini. Di samping itu, unsur zat patinya mirip dengan glycogen (menyerupai tepung tapioka), sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena dapat menggantikan kedudukan tepung tapioka dan bahan pengganti sagu.

B. Morphologi Jagung

1.  Akar dan Sistem Perakaran

Ketika biji jagung berkecambah, mula-mula tumbuh akar dari calon akar  yang berada dekat ujung biji yang menempel pada janggel. Beberapa jam kemudian bakal batang tumbuh di ujung sebelah atas embriyo. Pada waktu yang hampir bersamaan 2-3 akar akan muncul kira-kira di bagian tengah antara akar dan batang.

 

Ini adalah akar sementara intuk mempertahankan  berdirinya   kecambah dalam waktu yang tidak terlalu lama. Saat kecambah berumur 6-10 hari, akar-akar permanen mulai tumbuh pada kira-kira 2,5 cm dari permukaan tanah.

Ketika biji jagung berkecambah, mula-mula tumbuh akar dari calon akar  yang berada dekat ujung biji yang menempel pada janggel. Beberapa jam kemudian bakal batang tumbuh di ujung sebelah atas embriyo. Pada waktu yang hampir bersamaan 2-3 akar akan muncul kira-kira di bagian tengah antara akar dan batang. Ini adalah akar sementara intuk mempertahankan berdirinya kecambah dalam waktu yang tidak terlalu lama. Saat kecambah berumur 6-10 hari, akar-akar permanen mulai tumbuh pada kira-kira 2,5 cm dari permukaan tanah.

 

Pada mulanya akar permanen tumbuh lateral sampai kira-kira umur 9-12 hari, kemudian tumbuh ke bawah,  Jarak pertumbuhan lateral dari poros batang dapat mencapai 30-35 cm sedalam 8-15 cm dari permukaan tanah, kemudian pertumbuhan akar cepat menuju ke bawah. Jaraknya ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti varietas, jenis tanah, kelembaban tanah, dan suhu. Apabila bunga jantan telah keluar (kira-kira tanaman jagung berumur 2 bulan), maka radius akar dapat mencapai  ± 100 cm dan sedalam ± 75 cm. Jumlah akar bertambah terus sampai tanaman tua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s